OPPORTUNITY COST , RUMUS MENGHITUNG BIAYA PRODUKSI DAN RINCIAN BIAYA PRODUKSI
1. Pendahuluan
Sebagai seorang Enterpleneur haruslah tau cara menghitung biaya produksi untuk mengetahui laba/ rugi suatu perusahaan (usaha yang dilakukan), roda produksi perusahaan setiap harinya memproduksi barang dan jasa yang dinikmati konsumen. Semua perusahaan mulai dari perusahaan raksasa multinasional hingga kepedagang kaki lima mengeluarkan biaya agar bisa menyediakan barang dan jasa yang dapat dimanfaatkan konsumen. Biaya peluang (opportunity cost) adalah pengorbanan yang dilakukan seseorang karena mengambil sebuah pilihan.Biaya peluang tidak dikenal pada ilmu akuntansi.Selain biaya peluang terdapat juga biaya-biaya usaha sbb:
1. Biaya tetap (FC)
Biaya yang
jumlahnya tidak berubah ketika kuantitas output berubah. Biaya ini akan tetap
ada walaupun perusahaan tidak melakukan produksi. Yang termasuk biaya ini Sewa
ruangan took, gaji pegawai, dan penyusutan mesin-mesin.
2. Biaya Variable (VC)
Merupakan biaya
yang jumlahnya berubah ketika jumlah barang yang diproduksi berubah. Yang
tergolong biaya variable adalah biaya pembelian bahan mentah atau bahan dasar
yang digunakan untuk prosuksi.
3. Biaya Total (TC)
Merupakan
seluruh biaya atau pengeluaran yang dibayar perusahaan untuk membeli berbagai
input (barang atau jasa) untuk keperluan produksi.
Rumus :
BIAYA TOTAL = BIAYA TETAP + BIAYA VARIABLE
` TC = FC + VC
NB :
Biaya tetap : Berapapun jumlah barang yang diproduksi,
jumlah biaya tetap sama.
Biaya Variable : Jumlah biaya berubah-ubah besarnya
tergantung pada kualitas produksi.
2. Definisi Biaya
6. CONTOH MENGHITUNG UNTUK MENENTUKAN HARGA JUAL SEBUAH PRODUK
1. Penetapan Harga Biaya Plus (Cost-Plus Pricing Method)
Kalau anda menggunakan metode ini, anda menentukan harga jual per unit produk anda dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutup laba yang anda kehendaki pada unit tersebut, atau disebut marjin. Harga jual produk dapat anda hitung dengan rumus :
2. Penetapan Harga Mark-Up (Mark-Up Pricing Method)
Pada intinya, penetapan harga mark-up ini hampir sama dengan penetapan harga biaya plus. Para pedagang atau perusahaan perdagangan lebih banyak menggunakan penetapan harga mark-up ini.
3. Penetapan Harga Break-even (Break-Even Pricing)
Adalah cara penetapan harga yang didasarkan pada permintaan pasar dan masih mempertimbangkan biaya. Usaha anda dapat dikatakan dalam keadaan break-even apabila penghasilan yang anda terima sama dengan ongkosnya, dengan anggapan bahwa harga jualnya sudah anda tentukan.
4. Penetapan Harga dalam Hubungannya dengan Pasar
Kalau menggunakan cara yang satu ini, penentuan harga tidak anda dasarkan pada biaya, tetapi justru sebaliknya. Harga yang menentukan biaya bagi usaha anda.
PRAKTEK ( I ) MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI; Usaha telur ayam ras
Komponen pembentuk harga pokok produksi telur:
1. PAKAN
Harga pakan jadi/komplit buatan pabrik di Jawa Timur yang berlaku saat ini, per 1 Desember 2012, rata-rata Rp 4.000,-/kg. Ditambah biaya kirim ke kandang dengan jarak 100 km dan upah menurunkan, lebih kurang Rp 100,-/kg. Jadi, harga pakan, sampai dimakan ayam, menjadi Rp 4.100,-/kg. Dikalikan FCR (Feed Conversion Ratio) total populasi ayam petelur yang berproduksi, umur 20 s/d 80 minggu, atau sampai afkir rata-rata 2.30, maka biaya pakan Rp 9.430,-/kg.
2. BIAYA OPERASIONAL
Yang termasuk biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan peternakan ayam petelur untuk berproduksi, meliputi listrik, telepon, air, upah/gaji tenaga kerja, perawatan, material-material, sosial, kesehatan, pengamanan, sosial, bahan bakar minyak dan lain-lain. Antara satu peternakan dengan peternakan yang lain tentu saja berbeda. Tergantung dari sistem kandang yang digunakan, alat dan cara pemberian pakan dan minum, apakah manual, semi-otomatis atau otomatis. Menurut pengalaman peternak di Jawa Timur, dengan cara pemberian pakan dan minum secara manual, biaya operasionalnya lebih kurang Rp 1.000,-/kg. Bila semi-otomatis atau otomatis, biayanya bisa lebih murah Rp 100 – 200,-/kg.
3. PENYUSUTAN PULLET
Yang disebut pullet di sini adalah ayam dara sampai dengan umur 153 hari (umur 22 minggu, hari ke-7), sampai berproduksi HD 60%, pada saat itu layer sudah bisa membiayai makanannya dari hasil produksi telurnya. Sedangkan yang dimaksud layer adalah ayam petelur umur 154 hari (umur 23 minggu, hari ke-1) s/d 80 minggu atau lebih, sampai diafkir. Dengan harga anak ayam, pakan, biaya operasional, vaksin, vitamin, kimia dan lain-lain yang berlaku saat ini, per 1 Desember 2012, harga pullet sampai dengan umur 153 hari, lebih kurang Rp 55.000,-/ekor.
4. BIAYA PENYUSUTAN INVESTASI KANDANG DAN INFRA STRUKTUR
Beban biaya penyusutan investasi kandang dan infra-struktur penunjang, tidak termasuk nilai lahan. Lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu.
5. BIAYA PENJUALAN
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat (loco) di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg tray, tali, label dan lain-lain). Rata-rata biaya penjualan Rp 250,-/kg.
6. OBAT-OBATAN, VAKSIN DAN KIMIA (O.V.K.)
Perusahaan peternakan ayam petelur, karena mengelola makhluk hidup, memerlukan obat-obatan (anti biotika, anti cacing), vaksin (vaksin mati dan vaksin hidup) dan kimia (desinfektan, insektisida, vitamin) supaya ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi terhadap beberapa penyakit harus diulang berkala, obat cacing perlu diulang berkala, pemberantasan hama lalat dan kutu, bio-sekuriti dan vitamin juga harus diberikan secara berkala. Total biaya OVK bila dirata-rata tidak kurang dari Rp 450,-/kg.
7. BIAYA LAIN-LAIN
Dalam perjalanan suatu perusahaan, tidak terlepas dari hal-hal yang terjadi di luar perkiraan atau tak terduga. Biasanya menyangkut biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Maka, perlu dicadangkan biaya tak terduga, diperkirakan rata-ratanya perlu anggaran sebesar Rp 75,-/kg.
Rangkuman biaya-biaya :
1. Pakan……………Rp 9.430,- (72.65%)
2. B.O……………….Rp 1.000,- ( 7.70%)
3. Pullet…………….Rp 1.417,- (10.92%)
4. Investasi……….Rp 357,- ( 2.75%)
5. Penjualan………Rp 250,- ( 1.92%)
6. O.V.K…………….Rp 450,- ( 3.47%)
7. Lain-lain……….Rp 75,- ( 0.58%)
Berikutnya, supaya gampang menghitung secara cepat, rasio harga pokok produksi (= R.H.P.P.), yaitu harga pokok produksi telur Rp 12.979 : harga pakan Rp 4.000,-/kg = 3,24.
Sekarang coba Anda tinjau dan/atau evaluasi, apakah biaya-biaya untuk menghasilkan telur di perusahaan Anda sudah efisien. Terutama biaya pakan, biaya operasional dan biaya penyusutan pullet. Karena ketiga biaya tersebut menempati porsi yang paling banyak dan menentukan, yaitu 91.27%. Dan, Anda evaluasi apakah performans-nya sudah baik dan benar.
Bila Anda berada di jalur ke-2, LC-LP, umumnya masih bisa bertahan. Asal efisiensi biaya operasional dan pakan harus cukup nyata. Biaya operasional harus bisa lebih rendah Rp 250,-/kg telur dibanding peternak layer yang lain dan harga pakan harus bisa lebih murah Rp 300,-/kg dibanding peternak layer lain. Walaupun produktifitasnya lebih rendah, tetap ada selisih lebih antara harga jual telur dengan harga pokok produksi. Saran saya, cari upaya supaya ada sedikit peningkatan produktifitas.
Bila Anda berada di jalur ke-3, HC-LP, hampir bisa dipastikan rugi. Bila Anda masih ingin mempertahankan peternakan yang sudah di jalur ini, Anda harus melakukan “reformasi” manajemen, terutama di level pimpinan.
Kenyataan di lapangan, semakin banyak karyawan, bisa dipastikan semakin banyak masalah. Belum tentu karyawan yang direkrut mampu menyelesaikan masalah.
I. EFISIENSI
Supaya bisa efisien, perlu dibenahi rasio-rasionya, sebagai berikut :
1. Rasio Populasi
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah total populasi layer atau ayam petelur yang berproduksi, yaitu mulai umur 20 – 80 minggu atau lebih, dibagi semua karyawan yang terlibat mengelola suatu peternakan. Mulai Manajer, Kepala Bagian, Mandor, Staf, Satpam, karyawan kandang, karyawan gudang pakan, gudang telur, perawatan, umum dan lain-lain. Untuk peternakan dengan sistem kandang terbuka dan pemberian pakan dan minumnya manual, seyogyanya, rasionya tidak kurang dari 2.000 ekor per orang. Bila rasionya kurang dari 2.000 ekor per orang, biaya upah tenaga kerjanya menjadi relatif mahal. Upah tenaga kerja memakai patokan Upah Minimum Propinsi (UMP) setempat.
Bila pemberian air minumnya pakai nipple,
rasionya bisa lebih dari 2.000 ekor per orang. Bila pemberian air minum dan
pakan pakai sistem semi otomatis tanpa energi listrik (hopper dorong),
rasionya bisa lebih dari 2.500 ekor per orang dengan catatan populasi minimum
100.000 ekor
2. Rasio Biaya Operasional
Biaya operasional ada yang bersifat tetap (fixed cost), ada yang bersifat tidak tetap (variable cost). Logikanya, sebaiknya Anda harus bisa menekan biaya tetap. Misalnya, menggunakan karyawan tetap sedikit saja, yaitu sebatas tenaga inti atau tenaga terampil. Selebihnya, yang tidak memerlukan keterampilan tinggi, cukup menggunakan karyawan harian dan/atau borongan atau out sourcing. Di peternakan ayam pedaging, semua karyawan kandang sistem upahnya borongan.
3. Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio = FCR)
Porsi terbesar komponen pembentuk harga pokok produksi telur adalah pakan yaitu lebih kurang 75%. Maka dari itu segala daya upaya harus diusahakan bisa menghasilkan penghematan pemakaian pakan tetapi tanpa mengorbankan sisi produktifitas. Semua strain layer yang beredar di Indonesia mengaku bahwa FCR strainnya bisa 2.1–2.2. Kenapa tidak bisa? Pengalaman banyak peternak layer di Jatim, FCR tersebut bisa dicapai dan dipertahankan selama bertahun-tahun, sejak 1995 sampai sekarang. Pemberian pakannya secara manual, tetapi pemberian air minum pada umumnya sudah pakai nipple.

Pemberian pakan ayam pakai corong (hopper) yang
didorong tenaga manusia sangat menghemat pakan, bisa mencapai 2 – 3
gram/ekor/hari dibanding pemberian pakan secara manual pakai gayung.
Karena pakan yang tercecer hampir tidak ada. Bila Anda mau, konstruksi kandang
yang sudah ada bisa dimodifikasi supaya bisa pakai nipple dan hopper
dorong.
II. PRODUKTIFITAS
Peternak layer wajib punya catatan (recording)
produksi bukan yang harian (Hen Day) saja tetapi harus lengkap sampai recording
per periode (Hen House). Produktifitas layer, umur 20
– 80 minggu atau lebih, usahakan bisa mencapai egg mass rata-rata
minimum 50 kg telur/1.000 ekor. Sedangkan sebagai bahan evaluasi per periode hen
house, produksi telur seharusnya bisa mencapai 21 kg telur/ ekor pada umur
80 minggu. Standar tersebut bisa dicapai bila produktifitas telur harian (H.D%)
tinggi, rata-rata >80%, diimbangi dengan susut jumlah ayam rendah, seperiode
tidak lebih dari 10% (=0.6% per bulan) dan bobot telur per butir (egg weight)
rata-rata >62,5 gram/butir.
2. Definisi Biaya
Biya merupakan
salah satu kunci keberhasilan perusahaan dalam menjalankan usahanya. Hal ini
disebabkan biaya sangat menentukan keuntungan yang akan diperoleh perusahaan.
Biaya adalah
semua pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik yang telah, sedang maupun
yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.
Ilmu yang
mempeajari masalah-masalah biaya adalah Akuntansi Biaya. Akuntasnsi biaya pada
perusahaan berhubungan dengan tugas-tugas : mencatat, mengklasifikasikan,
mengintrespestasikan, menyajikan dan mengendalikan biaya dari proses produksi.
3. Pengelompokan Biaya
Biaya dapat digolongkan berdasarkan sudut tinjauan, antara lain :
- Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk :
- Biaya bahan langsung = biaya yang timbul dari pemakaian semua bahan-bahan yang menjadi bagian dari produk jadi.
- Biaya buruh langsung = biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang ikut terlibat dalam kegiatan proses produksi.
- Biaya tak langsung pabrik = biaya yang terjadi dipabrik
Biaya ini terdiri dari :
·
Biaya bahan tak langsung = biaya dari semua bahan-bahan
yang tidak menjadi bagian dari suatu produk, tetapi diperlukan dalam pengolahan
bahan menjadi barag. Contoh : pengelasan pada pembuatan mobil
·
Biaya buruh tak lansung = biaya yang dikeluarkan untuk
pekerja yang ada dipabrik, tetapi tidak langsung dalam proses pembuatan suatu
produk. Contoh : gaji untuk pekerja bagian perawatan mesin.
- Biaya komersial = biaya tak langsung yang tidak terjadi di pabrik.
Biaya ini terdiri dari :
·
Biaya penjualan = pengeluaran yang dilakukan dalam rangka
kegiatan penjualan suatu produk
·
Biaya administrasi = pengeluaran yang dilakukan untuk
mendukung kegiatan-kegiatan pabrik.
- Menurut perubahan dalam volume produksi
- Biaya tetap : biaya yang tidak tergantung pada volume produksi
- Biaya variabel : biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi
4. Cara penentuan biaya pembuatan produk :
- Biaya historis : yaitu penentuan biaya produk dengan mengumpulkan semua biaya yang telah terjadi dan diperhitungkan setelah operasi pembuatan produk selesai
- Biaya sebelum pembuatan : suatu cara penentuan biaya pembuatan produk sebelum produk tersebut dibuat.
Biaya ini terbagi atas :
- Biaya anggaran : berdasarkan kegiatan masa lalu dan perkiraan kegiatan pada masa yang direncanakan.
- Biaya standar : berdasarkan standar-standar pelaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Harga pokok
standar : harga pokok yang telah ditentukan sebelum proses produksi
dilaksanakan.
Tujuannya
adalah :
- Pengendalian biaya dan jika memungkinkan menguranginya.
- Pengukuran efesiensi
- Penyederhanaan prosedur pembiayaan
- Penilaian persediaan
- Penentuan harga jul.
Cara penentuan
biaya standar :
- Berdasarkan rata-rata biaya yang terjadi pada masa lalu
- Berdasarkan biaya terendah yang terjadi pada masa lalu
- Berdasarkan biaya yang berasal dari anggaran pada suatu kondisi operasi yang normal
- Berdasarkan biaya ideal yang terjadi pada efesiensi maksimum
- Berdasarkan biaya yang dapat dicapai pada kondisi operasi yang baik.
5. CONTOH PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI
Harga jual hasil
produksi PT. ”X” sebesar 20.425. dengan data-data biaya yang dikeluarkan adalah
sebagai berikut :
|
Bahan baku yang digunakan
|
Awal tahun
|
Akhir tahun
|
|
Departemen A
Tarif
upah langsung pada Dept. A
Jam kerja yang
terjadi pada Dept. A
Tarif upah
langsung pada Dept. B
Jam kerja
yang terjadi pada Dept. B
Jam
mesin pada Dept. B
Overhead
pabrik Dept A (perjam buruh langsung)
Overhead
pabrik Dept. B (perjam mesin)
|
2.400
4,10/jam
600
4,00/jam
300
200
2,00
1,80
|
1.300
4,10/jam
400
4,00
140
120
2,00
1,80
|
Biaya
pemasaran dan administrasi yang dibebankan oleh perusahaan sebesar 25 % dari
harga pokok produksi.
Tentukan biaya
total produksi serta persentasi margin.
Jawab :
BAHAN LANGSUNG
|
Tanggal
|
Departemen
|
Biaya
|
Biaya Total
|
|
1 Januari
31 Desember
|
A
A
|
2.400
1.300
|
3.700
|
BURUH LANGSUNG
|
Tanggal
|
Depertemen
|
Jam
|
Upah/jam
|
Biaya
|
Biaya Total
|
|
1 Januari
1 Januari
31 Desember
31 Desember
|
A
B
A
B
|
600
300
400
140
|
4,10
4,00
4,10
4,00
|
2.460
1.200
1.640
560
|
5.860
|
OVERHEAD PABRIK
|
Tanggal
|
Dept.
|
Dasar Pengenaan (DP)
|
Jam
|
Biaya/DP
|
Biaya
|
Biaya Total
|
|
1 Januari
1 Januari
31 Desember
31 Desember
|
A
B
A
B
|
/jam
buruh
/jam
mesin
/jam
buruh
/jam
mesin
|
600
200
400
120
|
2,00
2,00
1,80
1,80
|
1.200
360
800
216
|
2.576
|
Bahan
Langsung 3.700
Buruh
langsung
Dept.
A 4.100
Dept.
B 1.760
5.860
9.560
Overhead Pabrik
Dept. A 2.000
Dept. B
576
2.576
Biaya
Total Produksi 12. 136
Biaya pemasaran & adm
25 % x 12.136 = 3.034
Maka biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan :
12.136 +
3.034 = 15.170
Harga jual produksi
oleh perusahaan
20.425
Laba yang
diperoleh perusahaan :
20.425 – 15.170 = 5.255
Presentasi margin yang diperoleh perusahaan sebesar :
(5.255/20.425) x 100 % = 25,73 %
6. CONTOH MENGHITUNG UNTUK MENENTUKAN HARGA JUAL SEBUAH PRODUK
Sudah ada
yang tahu bagaimana metode atau cara penetapan harga sebuah produk? Caranya sih
bisa bermacam-macam dan banyak. Yang akan saya bahas hanyalah 2 pendekatan
pokok dalam penentuan harga jual.
Pertama,
dengan pendekatan biaya yaitu penetapan harga biaya plus, penetapan harga
mark-plus dan penetapan harga break even. Kedua dengan pendekatan pasar atau
persaingan.
1. Penetapan Harga Biaya Plus (Cost-Plus Pricing Method)
Kalau anda menggunakan metode ini, anda menentukan harga jual per unit produk anda dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutup laba yang anda kehendaki pada unit tersebut, atau disebut marjin. Harga jual produk dapat anda hitung dengan rumus :
Biaya Total + Marjin = Harga Jual
Contohnya
seperti ini. Misalkan anda punya usaha jus buah dan mendapatkan order sebanyak 100
gelas untuk sebuah pesta perpisahan. Biaya yang anda keluarkan untuk
memproduksi jus buah tersebut diperkirakan sebanyak 400.000,00 dengan
perincian :
- Biaya bahan baku : Rp. 250.000,00
- Biaya tenaga kerja : Rp. 100.000,00
- Biaya lain-lain seperti penyusutan alat, sewa tempat, dsb : Rp. 50.000,00
Jika anda
menginginkan laba sebesar 15% dari biaya total, maka : Harga total = Biaya
Total + Laba = Rp. 400.000,00 + (15% x Rp 400.000,00) = Rp. 460.000,00.
Dengan demikian untuk setiap jus yang anda jual, harganya sebesar Rp. 4.600,00.
2. Penetapan Harga Mark-Up (Mark-Up Pricing Method)
Pada intinya, penetapan harga mark-up ini hampir sama dengan penetapan harga biaya plus. Para pedagang atau perusahaan perdagangan lebih banyak menggunakan penetapan harga mark-up ini.
Caranya
lebih sederhana. Anda membeli barang-barang dagangan kemudian harga jualnya
anda tentukan setelah menambah harga beli dengan sejumlah mark-up, seperti
rumus di bawah ini:
Harga Beli + Mark Up = Harga Jual
Jadi mark-up
ini merupakan kelebihan harga jual di atas harga belinya. Contohnya seperti
ini. Anggap anda punya Tokon sepatu. Anda beli
sepatu adventure merk “X” seharga 300 ribu. Kemudian anda ingin keuntungan 50
ribu, jadinya anda jual 300 ribu + 50 ribu = 350 ribu. Simpel kan?
Jadi
keuntungannya dapat anda peroleh dari sebagian mark-up tersebut. Mengapa hanya
sebagian? Karena anda juga harus mengeluarkan sejumlah biaya “lain-lain”
seperti transport untuk beli sepatu yang anda ambilkan dari sebagian mark-up.
3. Penetapan Harga Break-even (Break-Even Pricing)
Adalah cara penetapan harga yang didasarkan pada permintaan pasar dan masih mempertimbangkan biaya. Usaha anda dapat dikatakan dalam keadaan break-even apabila penghasilan yang anda terima sama dengan ongkosnya, dengan anggapan bahwa harga jualnya sudah anda tentukan.
Menurut cara
ini, usaha anda akan mendapatkan laba apabila penjualan yang anda capai berada
di atas titik break-even dan rugi penjualan anda berada di bawah titik
break-even.
Cara
penetapan harga break-even ini dapat anda terapkan dengan menggunakan beberapa
“syarat” tertentu, yaitu:
- Seluruh biaya usaha anda dapat digolongkan ke dalam biaya variabel dan biaya tetap.
- Seluruh barang yang anda produksi akan terjual.
- Biaya variabel per unitnya tetap.
Bingung ya?
Sama, he..he..he.. Kalau anda ingin tahu jelasnya, silahkan baca artikel saya
tentang apa itu biaya tetap dan variabel dan cara menetukan break even point atau titik
impas.
Lengkap kok,
dengan contoh perhitungannya. So, don’t miss it… Insya Allah nanti anda akan
paham bagaimana cara menentukan produk anda dengan metode ini.
4. Penetapan Harga dalam Hubungannya dengan Pasar
Kalau menggunakan cara yang satu ini, penentuan harga tidak anda dasarkan pada biaya, tetapi justru sebaliknya. Harga yang menentukan biaya bagi usaha anda.
Anda dapat
menentukan harga sama dengan tingkat harga pasar agar dapat ikut bersaing, atau
dapat juga ditentukan lebih tinggi atau lebih rendah dari tingkat harga dalam
persaingan. Tergantung strategi dan segmen pasar anda, o
PRAKTEK ( I ) MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI; Usaha telur ayam ras
Kenaikan
harga bahan baku pakan dan bakar minyak tentu sangat berpengaruh terhadap
kenaikan harga bahan baku pakan ayam. Terutama bahan baku yang berasal dari
luar negeri atau impor. Lebih-lebih dengan naiknya permintaan pasar
internasional dan pemakaian sebagian bahan baku pakan untuk memproduksi energi
maka harganya pun menjadi semakin mahal. Pengaruh kenaikan harga bahan bakar
minyak terhadap biaya transport juga sangat terasa sekali, semakin mahal.
Selanjutnya, akan sangat berpengaruh terhadap harga pokok produksi telur.
Harga pokok
produksi merupakan puncak dari berbagai variabel kegiatan manajemen peternakan
ayam petelur. Komponen-komponen pembentuk harga pokok produksi telur: (1)
pakan, (2) biaya operasional (upah, bahan bakar minyak, listrik, telepon,
material-material, perawatan), (3) penyusutan pullet (ayam dara sampai
dengan umur 19 minggu), (4) penyusutan investasi infrastruktur (kandang, gudang
pakan dan telur, mess, kantor, listrik, jalan dll), (5) biaya penjualan (6)
obat, vaksin, vitamin dan kimia, dan (7) biaya lain-lain.
Komponen pembentuk harga pokok produksi telur:
1. PAKAN
Harga pakan jadi/komplit buatan pabrik di Jawa Timur yang berlaku saat ini, per 1 Desember 2012, rata-rata Rp 4.000,-/kg. Ditambah biaya kirim ke kandang dengan jarak 100 km dan upah menurunkan, lebih kurang Rp 100,-/kg. Jadi, harga pakan, sampai dimakan ayam, menjadi Rp 4.100,-/kg. Dikalikan FCR (Feed Conversion Ratio) total populasi ayam petelur yang berproduksi, umur 20 s/d 80 minggu, atau sampai afkir rata-rata 2.30, maka biaya pakan Rp 9.430,-/kg.
2. BIAYA OPERASIONAL
Yang termasuk biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan peternakan ayam petelur untuk berproduksi, meliputi listrik, telepon, air, upah/gaji tenaga kerja, perawatan, material-material, sosial, kesehatan, pengamanan, sosial, bahan bakar minyak dan lain-lain. Antara satu peternakan dengan peternakan yang lain tentu saja berbeda. Tergantung dari sistem kandang yang digunakan, alat dan cara pemberian pakan dan minum, apakah manual, semi-otomatis atau otomatis. Menurut pengalaman peternak di Jawa Timur, dengan cara pemberian pakan dan minum secara manual, biaya operasionalnya lebih kurang Rp 1.000,-/kg. Bila semi-otomatis atau otomatis, biayanya bisa lebih murah Rp 100 – 200,-/kg.
3. PENYUSUTAN PULLET
Yang disebut pullet di sini adalah ayam dara sampai dengan umur 153 hari (umur 22 minggu, hari ke-7), sampai berproduksi HD 60%, pada saat itu layer sudah bisa membiayai makanannya dari hasil produksi telurnya. Sedangkan yang dimaksud layer adalah ayam petelur umur 154 hari (umur 23 minggu, hari ke-1) s/d 80 minggu atau lebih, sampai diafkir. Dengan harga anak ayam, pakan, biaya operasional, vaksin, vitamin, kimia dan lain-lain yang berlaku saat ini, per 1 Desember 2012, harga pullet sampai dengan umur 153 hari, lebih kurang Rp 55.000,-/ekor.
Saat layer
tua diafkir pada umur 80 minggu atau lebih, harga di Jawa Timur rata-rata hanya
Rp 13.500,-/kg. Bobot badan rata-rata 1,9 kg/ekor = Rp 25.650,-/ekor. Sedangkan
sisa hidup saat diafkir pada umur 80 minggu atau lebih, rata-rata 15,0%. Jadi,
pendapatan dari ayam afkir Rp 26.650,- x 85% = Rp 21.800,-/ekor. Nilai
penyusutan pullet adalah harga awal masa produksi, dikurangi pendapatan
afkir, sisa Rp 28.350,-/ekor, dibagi pendapatan telur dalam 1 (satu) periode
s/d umur 80 minggu, rata-rata 20 kg telur/ekor/periode = Rp 1.417,-/kg telur.
4. BIAYA PENYUSUTAN INVESTASI KANDANG DAN INFRA STRUKTUR
Beban biaya penyusutan investasi kandang dan infra-struktur penunjang, tidak termasuk nilai lahan. Lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu.
Kandang dan
infra-struktur penunjang yang sudah ada saat ini, pada umumnya dibuat 3 – 10
tahun yang lalu dengan nilai saat itu rata-rata Rp 50.000,-/ekor. Hampir tidak
ada investasi kandang baru dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Dengan perhitungan
masa pakai bisa 10 tahun (= 7 periode), maka nilai penyusutan investasi awal
sama dengan Rp 50.000 : 7 periode : 20 kg telur per periode, Rp 357,-/kg.
Bagi
peternak layer yang sering memundurkan jadwal afkir, 6 – 10 minggu tiap
periode, maka pemakaian kandang tidak bisa 7 (tujuh) periode dalam 10 (sepuluh)
tahun, hanya 6 (enam) periode saja. Nilai penyusutan investasinya menjadi Rp
50.000,- : 6 periode : 22 kg (karena umur afkirnya dimundurkan, tapi
produktifitasnya sudah jelek) = Rp 378,-/kg. Malah jadi lebih mahal.
Belum lagi
tingginya rasio upah tenaga kerja akibat rendahnya produktifitas layer yang
sudah tua, yang sebenarnya sudah tidak layak “pakai”. Kualitas telur jadi
menurun, resikonya banyak keluhan dari pelanggan telur. Persentase telur retak
dan pecah meningkat. FCR ayam tua juga sangat jelek, lebih dari 2,5. Akibatnya,
pemanfaatan investasi kandang dan infrastruktur menjadi kurang ekonomis. Ini
sebagai bahan renungan bagi Anda, para peternak petelur.
5. BIAYA PENJUALAN
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat (loco) di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg tray, tali, label dan lain-lain). Rata-rata biaya penjualan Rp 250,-/kg.
6. OBAT-OBATAN, VAKSIN DAN KIMIA (O.V.K.)
Perusahaan peternakan ayam petelur, karena mengelola makhluk hidup, memerlukan obat-obatan (anti biotika, anti cacing), vaksin (vaksin mati dan vaksin hidup) dan kimia (desinfektan, insektisida, vitamin) supaya ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi terhadap beberapa penyakit harus diulang berkala, obat cacing perlu diulang berkala, pemberantasan hama lalat dan kutu, bio-sekuriti dan vitamin juga harus diberikan secara berkala. Total biaya OVK bila dirata-rata tidak kurang dari Rp 450,-/kg.
7. BIAYA LAIN-LAIN
Dalam perjalanan suatu perusahaan, tidak terlepas dari hal-hal yang terjadi di luar perkiraan atau tak terduga. Biasanya menyangkut biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Maka, perlu dicadangkan biaya tak terduga, diperkirakan rata-ratanya perlu anggaran sebesar Rp 75,-/kg.
Catatan : dalam pembahasan ini diasumsikan
semua biaya investasi dari “kantong” sendiri. Dianggap tidak pakai uang bank.
Maka, tidak ada biaya bunga dan angsuran hutang ke bank. Istilahnya, pakai
“uang dingin”, bukan “uang panas”.
Rangkuman biaya-biaya :
1. Pakan……………Rp 9.430,- (72.65%)
2. B.O……………….Rp 1.000,- ( 7.70%)
3. Pullet…………….Rp 1.417,- (10.92%)
4. Investasi……….Rp 357,- ( 2.75%)
5. Penjualan………Rp 250,- ( 1.92%)
6. O.V.K…………….Rp 450,- ( 3.47%)
7. Lain-lain……….Rp 75,- ( 0.58%)
Total …………
Rp 12.979,- (100.00%)
Berikutnya, supaya gampang menghitung secara cepat, rasio harga pokok produksi (= R.H.P.P.), yaitu harga pokok produksi telur Rp 12.979 : harga pakan Rp 4.000,-/kg = 3,24.
RUMUS
HPP TELUR = HARGA PAKAN x 3.24
Kalau toh
ada selisih hitungan secara akunting, bisa dipastikan tidak akan banyak, +/- Rp
200,-/kg.
Persoalannya,
bagaimana caranya peternak petelur bisa menekan HPP supaya kompetitif (punya
daya saing tinggi, tidak tergantung dari tingginya harga jual) dan bisa
bertahan di kancah peternakan ayam petelur serta masih bisa mendapat untung.
Sebelumnya,
mari kita mawas diri dulu, apakah manajemen peternakan ayam petelur yang Anda
kelola sudah berada di jalur yang baik dan benar, baik efisiensi mau pun performans-nya
:
1.
Ke-1 : High
Cost – High Performance (HC – HP);
2.
Ke-2 : Low Cost
– Low Performance (LC - LP);
3.
Ke-3 : High
Cost – Low Performance (HC – LP);
4.
Ke-4 : Low Cost
– High Performance (LC – HP)
Sekarang coba Anda tinjau dan/atau evaluasi, apakah biaya-biaya untuk menghasilkan telur di perusahaan Anda sudah efisien. Terutama biaya pakan, biaya operasional dan biaya penyusutan pullet. Karena ketiga biaya tersebut menempati porsi yang paling banyak dan menentukan, yaitu 91.27%. Dan, Anda evaluasi apakah performans-nya sudah baik dan benar.
Bila Anda
berada di jalur ke-1, mungkin masih bisa untung. Karena, dengan HC-HP, ada
kemungkinan bisa tercapai FCR 2.1 – 2.2 dan gambaran grafik produksinya tidak turun
secara curam tetapi bisa landai.
Bila Anda berada di jalur ke-2, LC-LP, umumnya masih bisa bertahan. Asal efisiensi biaya operasional dan pakan harus cukup nyata. Biaya operasional harus bisa lebih rendah Rp 250,-/kg telur dibanding peternak layer yang lain dan harga pakan harus bisa lebih murah Rp 300,-/kg dibanding peternak layer lain. Walaupun produktifitasnya lebih rendah, tetap ada selisih lebih antara harga jual telur dengan harga pokok produksi. Saran saya, cari upaya supaya ada sedikit peningkatan produktifitas.
Bila Anda berada di jalur ke-3, HC-LP, hampir bisa dipastikan rugi. Bila Anda masih ingin mempertahankan peternakan yang sudah di jalur ini, Anda harus melakukan “reformasi” manajemen, terutama di level pimpinan.
Pada
umumnya, perusahaan yang berjalan di jalur ke-3 ini, struktur organisasinya
“gembung” seperti buah apel. Jadi, salah satu programnya harus dilakukan
perampingan struktur organisasinya menjadi “segitiga kaki lebar”, kokoh.
Kenyataan di lapangan, semakin banyak karyawan, bisa dipastikan semakin banyak masalah. Belum tentu karyawan yang direkrut mampu menyelesaikan masalah.
Cari
karyawan yang memang mampu, profesional (jujur, disiplin, punya integritas
pribadi yang utuh) dan berdedikasi tinggi. Ingat prinsip dasar dalam
menyusun struktur organisasi, the right man on the right place (orang
yang tepat didudukkan di posisi yang tepat).
Bila sudah
tidak mampu dan atau tidak mau mempertahankan lagi, saran saya, dijual saja
atau di-“likuidasi”. Untuk apa “capek-capek” bekerja tetapi malah rugi.
Jalur ke-4, LC-HP,
merupakan idaman semua peternak layer. Perusahaan yang berjalan di jalur
ini, biasanya, struktur organisasinya ramping, masa kerja karyawannya relatif
lama (rata-rata bisa >5 tahun), terbentuk teamwork yang harmonis
karena masing-masing orang jelas job description-nya dan hampir-hampir
tidak ada konflik internal.
I. EFISIENSI
Supaya bisa efisien, perlu dibenahi rasio-rasionya, sebagai berikut :
1. Rasio Populasi
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah total populasi layer atau ayam petelur yang berproduksi, yaitu mulai umur 20 – 80 minggu atau lebih, dibagi semua karyawan yang terlibat mengelola suatu peternakan. Mulai Manajer, Kepala Bagian, Mandor, Staf, Satpam, karyawan kandang, karyawan gudang pakan, gudang telur, perawatan, umum dan lain-lain. Untuk peternakan dengan sistem kandang terbuka dan pemberian pakan dan minumnya manual, seyogyanya, rasionya tidak kurang dari 2.000 ekor per orang. Bila rasionya kurang dari 2.000 ekor per orang, biaya upah tenaga kerjanya menjadi relatif mahal. Upah tenaga kerja memakai patokan Upah Minimum Propinsi (UMP) setempat.
Bila pemberian air minumnya pakai nipple,
rasionya bisa lebih dari 2.000 ekor per orang. Bila pemberian air minum dan
pakan pakai sistem semi otomatis tanpa energi listrik (hopper dorong),
rasionya bisa lebih dari 2.500 ekor per orang dengan catatan populasi minimum
100.000 ekor
Bila sistem
kandang, tata letak dan tata kelolanya dirancang sejak awal, rasionya bisa
>3.000 ekor per orang. Biaya upah tenaga kerja tentu saja menjadi relatif
lebih murah walau pun Anda memberi upah 125 – 150 % di atas Upah Minimum
Propinsi setempat. Keuntungannya, karyawan lebih mudah diatur karena orangnya
sedikit tapi dengan take home pay tinggi, produktifitasnya menjadi lebih
tinggi dan “betah” bekerja di tempat Anda. Tidak terjadi “gonta-ganti” karyawan
terlalu sering.
2. Rasio Biaya Operasional
Biaya operasional ada yang bersifat tetap (fixed cost), ada yang bersifat tidak tetap (variable cost). Logikanya, sebaiknya Anda harus bisa menekan biaya tetap. Misalnya, menggunakan karyawan tetap sedikit saja, yaitu sebatas tenaga inti atau tenaga terampil. Selebihnya, yang tidak memerlukan keterampilan tinggi, cukup menggunakan karyawan harian dan/atau borongan atau out sourcing. Di peternakan ayam pedaging, semua karyawan kandang sistem upahnya borongan.
3. Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio = FCR)
Porsi terbesar komponen pembentuk harga pokok produksi telur adalah pakan yaitu lebih kurang 75%. Maka dari itu segala daya upaya harus diusahakan bisa menghasilkan penghematan pemakaian pakan tetapi tanpa mengorbankan sisi produktifitas. Semua strain layer yang beredar di Indonesia mengaku bahwa FCR strainnya bisa 2.1–2.2. Kenapa tidak bisa? Pengalaman banyak peternak layer di Jatim, FCR tersebut bisa dicapai dan dipertahankan selama bertahun-tahun, sejak 1995 sampai sekarang. Pemberian pakannya secara manual, tetapi pemberian air minum pada umumnya sudah pakai nipple.
Coba Anda
hitung berapa rupiah yang menguap (potential loss) bila FCR 2.35
dibanding FCR 2.20. Berarti ada penghematan pemakaian pakan sebesar 0.150 kg
pakan/kg telur x harga pakan Rp 4.000 = Rp 600,-/kg telur.
Anda yang
punya layer 100.000 ekor, nilai penghematannya, produksi rata-rata 5.000
kg x Rp 600,- = Rp 3.000.000,-/hari x 30 hari = Rp 90.000.000,-/bulan x 12
bulan = Rp1.08.000.000,-/tahun! Fantastis!
Padahal ini
hitungan dari jumlah layer 100.000 ekor saja. Bagi Anda yang punya layer
banyak, >200.000 ekor, tidak akan rugi bila mengkaryakan tenaga ahli dengan
gaji di atas Rp 10.000.000,-/bulan, dengan catatan performans dan efisiensi,
yaitu egg mass >50 kg/1.000 ekor dan FCR maksimum 2.20.
Pemberian
air minum ayam pakai nipple, jauh lebih hemat biaya listrik dan air
serta hampir-hampir tidak ada limbah. Pemakaian pakannya juga bisa hemat 2 – 3
gram/ekor/hari dibanding pemberian air minum pakai talang.

Pemberian pakan ayam pakai corong (hopper) yang
didorong tenaga manusia sangat menghemat pakan, bisa mencapai 2 – 3
gram/ekor/hari dibanding pemberian pakan secara manual pakai gayung.
Karena pakan yang tercecer hampir tidak ada. Bila Anda mau, konstruksi kandang
yang sudah ada bisa dimodifikasi supaya bisa pakai nipple dan hopper
dorong.
Kombinasi
keduanya, pemberian air minum pakai nipple dan pemberian pakan pakai hopper
dorong, bisa menghemat pemakaian pakan lebih kurang 5 (lima) gram/ekor/hari.
Tanpa perlu membatasi jatah pakan ayam. Pemberian pakan bisa tetap ad
libitum. Artinya, biarkan ayam yang mengatur seberapa jumlah pakan yang
dibutuhkan sesuai umurnya. Karena layer sangat jujur, diberi makan
sedikit, produksi telurnya sedikit dan kecil. Diberi makan banyak, produksi
telurnya banyak dan besar.
Ingat, harga
pakan sangatlah mahal. Tiap gram yang bisa dihemat akan sangat bermanfaat.
II. PRODUKTIFITAS
Rasio
Produktifitas Layer
Peternak layer wajib punya catatan (recording)
produksi bukan yang harian (Hen Day) saja tetapi harus lengkap sampai recording
per periode (Hen House). Produktifitas layer, umur 20
– 80 minggu atau lebih, usahakan bisa mencapai egg mass rata-rata
minimum 50 kg telur/1.000 ekor. Sedangkan sebagai bahan evaluasi per periode hen
house, produksi telur seharusnya bisa mencapai 21 kg telur/ ekor pada umur
80 minggu. Standar tersebut bisa dicapai bila produktifitas telur harian (H.D%)
tinggi, rata-rata >80%, diimbangi dengan susut jumlah ayam rendah, seperiode
tidak lebih dari 10% (=0.6% per bulan) dan bobot telur per butir (egg weight)
rata-rata >62,5 gram/butir.
Demikian
sekilas ringkas hitungan harga pokok produksi telur saat ini, dengan dasar
harga pakan dan anak ayam yang berlaku per 1 Desember 2012. Bila pada kemudian
hari harga pakan, anak ayam, upah tenaga kerja, bahan bakar minyak naik lagi,
berapa pun naiknya, maka cara menghitungnya mudah sekali. Demikian juga bila
terjadi sebaliknya, harga-harga turun. HPP telur = harga pakan x 3,24.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar